Keutamaan : Sadar, Bertanggungjawab dan Disiplin ?

Catatan : Brigjen Pol.Prof. Chrsyhnanda Dwilaksana (Dirkamsel Korlantas Polri)

Jakarta - Keutamaan bisa dipahami sebagai sesuatu yang hakiki bagi suatu profesi kalau dikaitkan demgan profesionalisme. Hakekat dari suatu profesi merupakan ada fungsinya atau kemanfaatannya bagi hidup dan kehidupan. Mengapa kemanfaatan bagi hidup dan kehidupan menjadi penting? Tatkala tiada manfaat bagi hidup dan kehidupan dspat dikatakan sebagai benalu. Menjadi beban, menjadi ancaman, menjadi gangguan, menjadi hambatan yang dapat menghambat, merusak bahkan mematikan bagi hidup dan kehidupan. Manusia dan kemanusiaan hakekatnya pada semakin manusiawinya manusia. Meningkatnya kualitas hidup, semakin cerdas, semakin beradab.


Manusia sebagai mahkluk sosial ada dalam kehidupan sosial. Berinteraksi, melakukan aktivitas untuk menghasilkan suatu produktifitas yang berkelompok dari keluarga, komunitas, masyarakat, bangsa hingga negara bahkan dunia. Dalam aktifitas yang menghasilkan produksi tersebut ada sesuatu yang kontra produktif. Maka sebagai mahkluk sosial dibangunlah kesepakatan untuk : menata, mengatur, melindungi, mengayomi dan melayani bagi kehidupan sosial agar dapat bertahan hidup tumbuh dan berkembang. Maka dibangunlah suatu aturan, norma, nilai hingga hukum. Tentu ada sanksi sebagai hukuman bagi yang melanggarnya dari tegoran, denda, kurungan bahkan hingga kutukan. Agar kesepakatan dapat ditegakan maka diperlukan tata cara mengajak orang orang mentaatinya dan ada yang menegakannya.


Proses menegakan kesepakatan merupakan suatu bagian agar hidup dan kehidupan dapat tumbuh dan berkembang. Konteks ini tentu ada kaitannya dalam semua lini kehidupan yangbsalingbkait mengkait. Manusia sebagai mahkluk sosial yang pada kelompok kecil dsri keluarga hingga negara bahkan masyarakat global memerlukan adanya tatanan yang berkembang menjadi administrasi manajemen kepemimpinan kebijakan publik hingga komunikasi. Yang digunakan memperebutkan dan mengeksploitasi sumber daya diperlukan adanya kekuatan dari idiologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan, keamanan, hukum, teknologi dsb.


Sivis pacem parabelum (kalau ingin damai harus siap berperang), pepatah ini mengingatkan kita semua bahwa dalam kehidupan sosial ada hubungan antara kekuatan dan kekuasaan. Dan dari situlah muncul stratifikasi sosial. Adu kekuatan dan memperebutkan kekuasaan kaitan pada kewenangan untuk menjadi dominan dan mendominasi atas pengeksploitasian dan pendistribusian sumber daya. Hal itukah yang menjadi dasar kepentingan? Asu gede menang kerahe? Hegemoni atas stratifikasi sosial? Oligarki kekuatan dan kekuasaan menjadibsatu melibas dan menindas yang lemah? Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin? Bisa saja demikian walau sebenarnya kata kuncinya pada sumber daya. Semakin terbatas dan semakin besar dan luas dampak pengaruhnya akan semakin diperebutkan apapun caranya dihalalkan. Di sinilah keutamaan menjadi penting tatkala kuat kuasa tanpa kendali maka akan merajalela dan semakin sewenang wenang.


Kisah epos Mahabarata menggambarkan perjuangan membangun suatu keutamaan walau dihadapkan banyak kisah dan nilai nilai filosofi kehidupan. Dari kaum brahmana, ksatria dan rakyat jelata. Kisah Karna misalnya yang mencari pengakuan dan bertemu dengan Duryudana dari kaum Kurawa yang sarat angkara murka, mengangkatnya sebagai teman. Juga memberinya kekuasaan. Karna menjadi hutang budi, ia menjadi buta dan lemah jiwa akan keutamaan demi membalas budi. Demikian juga kisah Bisma yang Agung, Guru Durna, Raja Salya juga mengalami nasib yang sama. Walau tebusannya gugur di medan laga Kurusetra. Menemukan keutamaan dimulai dari diri sendiri yang memiliki kesadaran. Orang yang sadar ini waras tetap eling, tidak lupa bisa mengerem, membatasi, tahu diri mengerti makna cukup. Di samping itu memiliki kepekaan, kepedulian dan bela rasa kepada sesamanya terutama yang termarjinalkan dan menderita. Orang yang memiliki kesadaran akan bertanggungjawab dan buahnya disiplin.


Membangun kesadaran yang menjadi keutamaan adalah membangun peradaban bagi semakin manusiawinya manusia. Tentu dapat dimulai dari keteraturan sosial, kesadaran atas kepatuhan hukum, peka peduli dan berani berbela rasa bagi hidup dan kehidupan. Kekuatan dan kekuasaan digunakan bagi hidup dan kehidupan manusia yang semakin manusiawi dan beradab. Para pemegang kuasa menggunakan kekuatannya secara proporsional dan profesional yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral, dalam hukum dan administrasi, secara fungsional dan sosial.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama